Nelayan Bantan Menjerit, Pasokan Solar Subsidi Terhenti Akibat Laporan, Nelayan: Tuduhan Atas Laporan Itu Tidak Benar
|
Sabtu, 22 November 2025 - 15:18:26 WIB
Riaueksis.com
Bantan - Dibalik keindahan pantai Bantan, tersembunyi kisah nelayan yang berjuang keras untuk mencari nafkah. Mereka menghabiskan hari-hari mereka di laut, menghadapi ombak dan badai, demi menghidupi keluarga mereka. Namun, kini mereka dihadapkan pada tantangan baru "krisis solar subsidi"
Pasokan solar subsidi yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat nelayan di sembilan desa yang ada di Kecamatan Bantan tiba-tiba terhenti, hal tersebut menjadi kekhawatiran bagi para nelayan yang menggantungkan hidup mereka dengan minyak tersebut untuk menggerakkan kapal-kapal mereka dalam mencari nafkah.
Bukan tanpa alasan, berhentinya Koperasi menyalurkan minyak kepada para nelayan dikarenakan ada salah satu nelayan yang yang melaporkan ketua koperasi ke Mapolres Bengkalis, dengan tuduhan pengurangan takaran solar subsidi.
Ilyas, nelayan dari Pambang Pesisir, mengungkapkan bahwa tuduhan atas laporan tersebut menurutnya tidak benar karena selam ia berlangganan dengan koperasi tersebut untuk mendapatkan jatah solar tidak pernah merasa dirugikan dan minyak yang didapat juga tidak pernah dikurangi.
"Empat tahun lamanya saya berlangganan disini mulai SPBU ini dibuka selama itu tidak pernah jatah minyak yang saya terima berkurang malahan saya ukur minyaknya berlebih satu liter dari jatah yang diterima," terang Ilyas kepada awak media. Jumat (21/11/25) dilokasi SPBU KPPM.
Ilyas juga membantah kalau ada tuduhan bahwa KPPM juga memungut biaya dari para nelayan untuk setoran ke dinas terkait sebesar Rp. 400 Ribu pernelayan. "Tidak pernah ada pungutan seperti itu. Yang jelas kami para nelayan merasa dirugikan oleh laporan yang tidak berdasar ini dan membuat KPPM menyetop pasokan minyak," tegas Ilyas.
Hal senada juga disampaikan oleh Ramli salah satu nelayan dari Desa Muntai, menambahkan bahwa SPBU milik KPPM telah berjalan dengan baik selama bertahun-tahun dan para nelayan tidak pernah ada keluhan dengan pelayanannya.
"Selama ini kami tidak pernah mengalami masalah dengan takaran solar atau pungutan liar, kalaupun ada pasti sudah dari dari dulu kami protes," ujarnya.
Pria paruh baya yang juga dipanggil pak Pit itu mengatakan bahwa saat ini para nelayan berharap agar pasokan solar subsidi dapat kembali normal sehingga mereka dapat melanjutkan aktivitas melaut.
"Kami ingin solar kembali masuk. Tanpa itu, kami tidak bisa makan pak, anak kami tidak bisa sekolah," ungkap Pit, dengan nada yang penuh harap kepada para awak media yang mewawancarainya.
Kisah nelayan Bantan ini adalah kisah jutaan nelayan lainnya di Indonesia. Mereka berjuang keras untuk mencari nafkah, namun dihadapkan pada tantangan yang tidak terduga. (H)